Alarm Darurat Pendidikan Telah Berbunyi
Jenuh dan miris rasanya mendengar ataupun membaca berita tentang maraknya bullying, tawuran dan kenakalan remaja yang berakibat fatal bagi sesame remaja. Terhembus pula, cerita pilu para guru yang memperjuangkan makna Pendidikan yang tidak lagi dapat diartikan mulianya arti mendidik. Rasanya sudah 4,5 dasawarsa bangsa Indonesia kehilangan Pendidikan Karakter. Di tahun 1980, kala itu Pendidikan Budi Pekerti dihapus. Empat puluh lima tahun atau 2 generasi, Indonesia tanpa arah pendidikan budi pekerti atau karakter yang jelas dan mendasar.
Lalu, Pendidikan itu oleh siapa ? Dinas Pendidikan dan sekolah serta para guru ? Atau Keluarga sebagai institusi paling utama dalam Pendidikan akhlak ? Sudah bukan waktunya lagi kita menyalahkan siapa berperan sebagai apa, namun yang lebih penting bagaimana kita bersama-sama “nyengkuyung” membenahi apa saja yang perlu dibenahi, utamanya Kesehatan mental remaja.
Kesehatan mental remaja adalah kondisi psikologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku mereka, dan sangat penting untuk membentuk individu yang sehat, bahagia, dan produktif. Masa remaja adalah periode transisi yang dipengaruhi oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial, yang dapat menimbulkan berbagai tantangan. Untuk menjaga kesehatan mental remaja, penting untuk membangun komunikasi terbuka, mendukung aktivitas positif, menerapkan gaya hidup sehat (tidur cukup, makan sehat), membatasi paparan media sosial, dan mengajarkan cara mengelola stres.
Faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja
- Faktor individu: Kematangan otak dan genetika (temperamen).
- Faktor keluarga: Pola asuh orang tua.
- Faktor lingkungan: Lingkungan keluarga, budaya, pergaulan dengan teman sebaya, dan pengaruh media sosial (termasuk cyberbullying).
- Tekanan akademik: Beban sekolah yang tinggi dan tekanan untuk mencapai nilai tertentu dapat menjadi pemicu stres.
Analisis Fakta Pengasuhan Positif Keluarga berbasis Pancasila di Kota Semarang
Survey tentang pengasuhan anak berbasis Pancasila telah Penulis laksanakan di Kota Semarang pada tahun 2020, berkerjasama dengan Disdalduk Kota Semarang. Berbasis filosofi Pancasila, Penulis mengembangkan pengasuhan berbasis landasan pikir dan perilaku khas Indonesia yaitu Pancasila, maka aspek yang diangkat dalam pengasuhan positif adalah :
- Spiritualitas mewakili Sila 1
- Kasih sayang, mewakili Sila ke 2
- Kelekatan, mewakili sila ke 3
- Keterbukaan, mewakili sila ke 4
- Harga Diri, mewakili sila ke 5
Grafik berikut adalah hasil survey pengasuhan keluarga di Kota Semarang dari 16 kecamatan.
Profil Pengasuhan Positif Keluarga Berbasis Pancasila di Kota Semarang
N= 23.928 ( 16 Kecamatan) th. 2020
Grafik 1 : Profil Pengasuhan Positif Kota Semarang, 2020
Hasil survey yang dilakukan tahun 2020, menarik untuk ditindak-lanjuti karena sebagian besar kecamatan menunjukkan kecenderungan mutu asuh orang tua yang rendah pada aspek Keterbukaan (mewakili sila ke 4) dan Kelekatan (mewakili sila ke 3). Grafik di atas menunjukkan bahwa Pengasuhan Positif Berbasis Pancasila pada Keluarga pada aspek Keterbukaan dan Kelekatan yang diberikan oleh orang tua terhadap remaja cenderung lebih rendah dibandingkan dengan masa anak-anak. Padahal remajalah calon penerus bangsa. Sebagian besar responden > 75% KK ( N=23.928 KK) dari 16 Kecamatan di Kota Semarang mengharapkan adanya kesinambungan pembelajaran keluarga langsung kepada masyarakat melalui metode pembelajaran aktif setiap tahun.
Tinjauan Psikoneuroimunologi Sepanjang Rentang Kehidupan
Ilmu terus berkembang. Psiko Neuro Imunologi (PNI) adalah ilmu baru di dunia kedokteran dengan penyatuan Jiwa dan Raga adalah konsep utamanya. Perkembangan ilmu ini menarik perhatian para dokter dan tenaga kesehatan lain, dengan menggabungkan ranah spiritual, medis dan psikologis menjadi satu kesatuan yang mustahil untuk dipisahkan.
Gambar berikut ini memperjelas bagaimana peran tumbuh kembang bayi dalam kandungan dan akibatnya setelah bayi lahir dan individu menjadi anggota masyarakat kelak.
Gambar 1 : Psiko-Neuro-Imunologi sepanjang rentang kehidupan
The effects of adversity on physical and psychological health outcomes during childhood and adolescence through PNI-related mechanisms of risk (Kautz, 2021).
Bila kita perhatikan ada kondisi yang kurang baik pada masa kehamilan dan kehidupan 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan) dari sebuah janin dalam kandungan, seperti misalkan anak yang tidak diharapkan, maka kelak pada proses dia menjadi balita dan masa sekolah, akan terjadi hal-hal negatif seperti pada Gambar 1. Mekanisme Resiko di dalam lingkaran elips berwarna kuning menggambarkan hal tersebut. Lalu apa kemudian dampak dari masa balitanya bila kelak dia menjadi seseorang di Level Individu di masyarakat? Gambar di lingkaran elips biru menunjukkan akibatnya, seperti proses kognisi yang lemah, perubahan struktur dan aktivasi otak, dampak psikopatologis dan imunitas tubuh yang bermasalah serta daya juang yang rendah. Dampak berikutnya adalah pada Level Komunitas seperti pada lingkaran merah dan telah banyak kita lihat dan dengar seperi kenakalan, kekerasan, bunuh diri, bahkan membunuh sesama manusia.
Maraknya tawuran dan segala bentuk kenakalan remaja, termasuk perundungan hingga pembunuhan sangat mengusik kita dan memerlukan penanganan holistic. Penguatan Mental siswa berbasis psiko-neuro-imuno-spritual sangat diperlukan. Mental anak yang sehat dan kuat, tentunya didasari oleh pembinaan, pengasuhan dan pendidikan yang baik. Apapun yang sudah anak rasakan atas asuhan didikan dari orang tua atau pendidik, pasti akan berdampak pada kehidupan selanjutnya di masyarakat. Bagaimana mengatasinya bila hal buruk yang terjadi pada mereka ?
Penelantaran pada masa kanak-kanak juga dapat berkaitan dengan masalah kesehatan fisik di masa dewasa seperti obesitas, penyakit jantung dan dampak pada perkembangan otak. Pola kortisol (hormon stres) dapat terganggu, dan berkorelasi dengan pertumbuhan fisik yang terhambat. Amigdala (bagian otak yang memproses emosi) yang menjadi kurang responsive dan terganggunya dopamine yaitu neurotransmitter di otak yang berperan penting dalam memori, gerakan, motivasi, suasana hati. Bila sudah ada ketidak-harmonisan peran masing-masing hormon yang dikendalikan dari otak, maka akan berakibat fatal. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan akan kenyamanan semu yang diinginkan adalah penyalah-gunaan obat / zat terlarang.
Nah apabila sudah ada obat terlarang yang masuk dalam dosis yang melebihi batas atau over dosis, maka akan terjadi ekskalasi obat dan terjadilah ketergantungan. Obat terlarang dan konten negatif apapun bentuknya, seperti film kekerasan, film porno akan saling melengkapi. Bahkan film porno dapat dikatakan sebagai narkolema atau narkotika lewat mata. Belum lagi masalah pencarian jati diri yang tidak kunjung puas serta gempuran gadget pada tayangan-tayangan kekerasan, akan menimbulkan tindakan negatif seperti yang akhir-akhir ini terjadi.
Kembali ke pertanyaan awal, siapa yang bertanggunjawab untuk membimbing anak dan remaja. Jawabnya : Kita semua. Bagaimana caranya ?
Apa dan Mengapa “RISE UP”
Dalam upaya untuk turut memajukan kualitas guru dan juga tenaga Kesehatan untuk mengawal tindakan preventif Kesehatan Mental, Rotary International Foundation mengambil peran penting melalui kerja sama Media Mitra Keluarga dalam menyelenggarakan Pelatihan Kewaspadaan Kesehatan Mental bertema Winning Within: The Power of Mental Health Resilience, Empowering Educators and Health Workers for Mental Resilience through “RISE UP” Framework. “RISE UP” adalah singkatan dari Resilient, Inspirative, Supportive, Empathetic, United, dan Peaceful.
Pelatihan Kesadaran Kesehatan Mental “RISE UP” untuk Guru SMA dan Tenaga Kesehatan pada batch ke empat ini akan dikhususkan di sekolah beresiko di Jawa Tengah, dengan tujuan menjadikan Guru dan Nakes sebagai konselor di sekolah dan daerah pantauan Puskesmas. Pelatihan Mental Health serupa telah dilakukan di Kota Semarang, Solo dan Surabaya sejak tahun 2023 kepada para siswa dengan tujuan menjadikan siswa sebagai peer educator yang peduli Kesehatan Mental.
Tahapan Pembelajaran Guru dan Nakes yang “RISE UP”
Berikut adalah alur tahapan pembelajaran yang dikemas menjadi 4 tahapan yang berkesinambungan beserta point-point bahasannya, setelah disesuaikan dengan Kompetensi Guru (dan Nakes) dengan kompetensi RISE UP yaitu :
- Tahap Kompetensi Kepribadian : berlandaskan Pancasila, peserta diharapkan dapat memperkenalkan diri dengan flourish percaya diri akan kemampuannya, serta mem branding diri dan kelompok yang positif (sebagai Empatik dan Supporif)
- Tahap Kompetensi professional : Memahani diri sebagai Makhluk Tuhan, beretika dan mampu memahami dunia siswa (sebagai Inspiratif dan Empatik)
- Tahap Kompetensi Pedagogik : mampu melakukan Regulasi Diri dan Regulasi Emosi, Disiplin, Jujur / berintegritas serta menjadi mampu menjadi Pencerah dalam mengatasi masalah siswa (sebagai contoh Resiliensi)
- Tahap Kompetensi Sosial : berdasarkan Pancasila para Guru dan Nakes mampu menjadi pencerah yang prestatif, memberikan jaminan yang terbaik, mengajak mencintai dan membela Indonesia, toleransi dalam berkehidupan ber Pancasila (sebagai United and Peaceful).
Outcome Yang Diharapkan Sesuai Kompetensi Guru Dan Nakes Yang “Rise Up”
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan guru yang mengikuti program pelatihan pengembangan Diri Guru dan Nakes yang “RISE UP” dapat menjadi agen perubahan yang mempunyai karakter “RISE UP” : yaitu sebagai Guru yang mampu melakukan Resiliensi, Inspiratif, Supportif, Empati, Pemersatu dan Pencinta Damai. Berjiwa kreatif dan inovatif dalam mengembangkan diri dan menjadi pencerah bagi sekolah dan lingkungannya. Diharapkan tujuan mulia mencerdaskan anak bangsa yang berkarakter dapat diteruskan oleh para pendidik yang lain melalui program yang dikembangkan sendiri oleh para guru.
Pendasaran olah pikir harus berjalan simultan dengan proses pemupukan karakter dan kreatifitas, melalui pembelajaran olah rasa (spiritualitas, etika, estetika dan nasionalisme), olah karsa (imajinasi dan kreatifitas) dan olah raga (permainan, ketangkasan dan sportivitas). Untuk memastikan kualitas “performa” atau outcome pendidikan seperti yang diinginkan. Bidikan berikutnya yang harus diarahkan pada peran dan mutu guru. Guru harus diberi derajat kebebasan lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan introspeksi dalam proses belajar-mengajar.
Pendidikan sebagai proses pemerdekaan tak dapat dicapai bilamana gurunya sendiri terbelenggu. Seorang juru didik perlu kecakapan yang lebih baik dari juru ukir. Seorang pengukir kayu pun wajib memiliki pengetahuan yang mendalam dan luas tentang hakikat kayu dan teknik ukir, apalagi juru didik yang diharapkan mampu mengukir manusia lahir dan batin. Bangsa yang hebat lahir karena Guru dan tenaga Kesehatan yang hebat
Selamat Hari Guru ke 80, tanggal 25 November 2025

